Kamis, 10 Mei 2012

KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI SUMATERA



KERAJAAN ISLAM DI SUMATERA
1.1 Kerajaan Perlak
Perlak adalah kerajaan Islam tertua di Indonesia. Perlak adalah sebuah kerajaan dengan masa pemerintahan cukup panjang. Kerajaan yang berdiri pada tahun 840 ini berakhir pada tahun 1292 karena bergabung dengan Kerajaan Samudra Pasai. Sejak berdiri sampai bergabungnya Perlak dengan Samudrar Pasai, terdapat 19 orang raja yang memerintah. Raja yang pertama ialah Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah (225 – 249 H / 840 – 964 M). Sultan bernama asli Saiyid Abdul Aziz pada tanggal 1 Muhharam 225 H dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Perlak. Setelah pengangkatan ini, Bandar Perlak diubah menjadi Bandar Khalifah.
Kerajaan ini mengalami masa jaya pada masa pemerintahan Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (622-662 H/1225-1263 M).
Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Perlak mengalami kemajuan pesat terutama dalam bidang pendidikan Islam dan perluasan dakwah Islamiah. Sultan mengawinkan dua putrinya: Putri Ganggang Sari (Putri Raihani) dengan Sultan Malikul Saleh dari Samudra Pasai serta Putri Ratna Kumala dengan Raja Tumasik (Singapura sekarang).
Perkawinan ini dengan parameswara Iskandar Syah yang kemudian bergelar Sultan Muhammad Syah.
Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat kemudian digantikan oleh Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdul Aziz Syah Johan Berdaulat (662-692 H/1263-1292 M). Inilah sultan terakhir Perlak. Setelah beliau wafat, Perlak disatukan dengan Kerajaan Samudra Pasai dengan raja Muhammad Malikul Dhahir yang adalah Putra Sultan Malikul Saleh dengan Putri Ganggang Sari.
Perlak merupakan kerajaan yang sudah maju. Hal ini terlihat dari adanya mata uang sendiri. Mata uang Perlak yang ditemukan terbuat dari emas (dirham), dari perak (kupang), dan dari tembaga atau kuningan.


 1.2 Samudera Pasai
a.Letak Secara geografis: Kerajaan SamuderaPasai terletak di daerah pantai timur Sumatera bagian utara yang berdekatan dengan selat malaka.
b.Kehidupan Politik: Perkembangan kehidupan politik pemerintahan di Kesultanan Samudera Pasai berjalan seperti kerajaan pada umumnya. Pemerintah kesultanan dipimpin oleh seorang sultan yang dibantu oleh beberapa orang dewanmenteri. Sultan ini merupakan simbol negara dan diperoleh secara turun temurun dari orang tua (ayah)yang sebelumnya menjadi  sultan. Raja-raja yang pernah memerintah di Kesultanan Samudera Pasai yaitu:
-Nazimuddin Kamil (1283-1285)
-Sultan Malikul Saleh (1285-1297)
-Sultan Malikul Thahir (1927-1326)
c.Kehidupan Ekonomi: Sebelum menjadi kesultanan, Samudera Pasai merupakan pelabuhan yang ramai dikunjungi pedagang dari dalam dan luar negeri. Namun waktu itu, Samudera Pasai masih berada di bawah kekuasaan Majapahit. Tatkala Majapahit mengalami kemunduran dan pengawasan terhadap Samudera Pasai berkurang, para ulama Samudera Pasai memanfaatkanny adengan mendirikan kesultanan. Dengan demikian, keuntungan yang diperoleh dari pelabuhan dan perdagangan kini benar- benar dimanfaatkan untuk membangun rakyat Samudera Pasai. Pada tahun  1350 Merupakan puncak kebesaran kerajaan Samudera Pasai.
d.Kehidupan Soisal: Sistem pemerintahan yang dijalankan di kesultanan Samudera Pasai merupakan sistem Theokrasi, yakni berdasarkan ajaran agama Islam, karena sebagian besar rakyatnya memeluk  agama Islam.

e.Kehidupan Budaya Kehidupan: budaya penduduk kesultanan Samudera Pasai sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Hal ini terbukti dari peninggalan-peninggalan berupa bekas Keraton, Batu Nisan padakuburan Sultan, Mesjid, serta hasil-hasil Kesusastraan.Selain itu, sistem penanggalan/kalender jelas-jelas menggunakan perhitungan tahun Hijriyah.


1.3 Kesultanan Malaka
a.Letak Letak kerajaan Malaka: diperkirakan berada di pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka. b.Kehidupan Politik:  Raja-raja/Sultan yang pernah memerintah di Kesultanan Malaka adalah sebagai berikut:
-Sultan IskandarSyah (1396-1414 M)
-Sultan Muhammad IskandarSyah (1414-1424 M)
-Sultan MudzafatSyah (1424-1458 M)
-Sultan MansyurSyah (1458-1477 M)
-Sultan AlaudinSyah (1477-1488 M)
-Sultan Mahmud Syah (1488-1511 M)
Namun, sistem birokrasi dan feodalisme Sultan, pembesar, dan golongan bangsawan berakibat pada melemahnya Malaka dibidang politik dan pertahanan. Mereka menjadi lupa akan pertahanan negara.  Dengan demikian, ketika bangsa Portugis datang ke Malaka dan berambisi manaklukan kekuatan-kekuatan Islam, Malaka tidak memiliki persiapan untuk menghadapinya.  Dengan mudah kesultanan Malaka dapat ditaklukan bangsa Portugis pada tahun  1511 M.
c.Kehidupan Ekonomi: Pada bidang ekonomi, Sultan dan Pejabat Tinggi keultanan ikut terlibat, seperti terlibat dalam kegiatan dagang, kemudian kekayaan yang  diperoleh dari perdagangan tersebut digunakan untuk membangun istana, membangun Mesjid-mesjid yang indah, memelihara gundik, hidup mewah, serta membangun dan memelihara pelabuhan. Berlakunya pajak bea-cukai yang  dikenakan pada setiap barang dan dibedakan atas asal barang. Kesultanan Malaka memiliki Undang-undang laut  yang  berisi pengaturan perdagangan dan pelayaran di  kesultanan tersebut.
d.Kehidupan Sosial: Kehidupan sosial kesultanan Malaka dipengaruhi oleh faktor letak, keadaanalam dan lingkungan wilayahnya. Agar komunikasi berjalan dengan lancar maka bahasa melayu digunakan di Kesultanan Malaka sebagai bahasa pengantar.
e.Kehidupan Budaya: Berkembangnya seni sastra melayu yang  menceritakan tentang tokoh pahlawan kerajaan, seperti Hikayat Hang Tuah.



1.4 Kesultanan Aceh
a.Letak Kesultanan Aceh: terletak di daerah pulau Sumatera, tepatnya di bagian utara pulau Sumatera. b.Kehidupan Politik: Kejatuhan Malaka (1511 M) pada Portugis membuat Sultannya menyingkir ke Johordan mendirikan Kesultanan baru di sana. Para pembesar Aceh membangun daerahnya sebagai sebuah kesultanan yang bercorak Islam. Raja-raja/Sultan yang pernah memerintah di Kesultanan Aceh adalah sebagaiberikut:
-Sultan Ali MughayatSyah (1514-1528 M)
-Sultan Slahuddin (1528-1537 M)
-Sultan AlaudinRiayatSyah
 -Kahar (1537-1568 M)
-Sultan IskandarMuda (1607-1636 M)
-Sultan IskandarThani (1636-1641 M)
-TajulAlamSafiatudinSyah (1641-1675 M)
-Sultan Ibrahim (1883-1870 M)3

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar